Jumat, 29 Februari 2008
dEMOkraSI SejaTi dan deMOkraSi SeTan
Rabu, 27 Februari 2008
"deMoN"_kraSi...

("Demon"_krasi)
Semulanya demokrasi menjadi pelita ditengah malam yg gelap...
Sejatinya menjadi sebuah seruan ditengah kezaliman yg terlaknat...
Sejalan menjelma bagi harapan yg menjanjikan untuk kesejahteraan....sesuatu...dan Ragamlah!
PadaNya nyaman dan terlindung bagi Ummat yg terluka, korban berganda;
hipokrit Zaman.
Berayun bersama saling mengikuti dan bergayut pada tujuanNya.
Sediakala maqam_nya digeser oleh Ambisi dan keserakahan, demokrasi telah bertransformasi menjadi rumah bordir yg sangat kotor ;
"mengeram birahi penindasan,menetas Pelacur kemanusiaan".
Maka Seyogjanya Ia tidak lg aman secara tempat berlindung bagi tujuan mulia yang bebas dari nista...
berwujudlah Ia rumah jagal dimana segala sesuatu dimaklumi demi kepentingan kata "bersama"
Yang padanya Demokrasi telah berkonspirasi dengan Agresi, diskriminasi dan Mazhalim.
Sekarang!
Demokrasi = Demoralisasi...
"demon"=setan_kr'e'asi...
"priMitiF koTa"
Disebut demikian karena beberapa thn belakangan marak muncul gol atau faham baru yg mencoba menggoyang ummat muslim seperti faham liberalis,pluralis dan sekuleris bahkan tidak asing sebuah nama eksis dengan lebel Jaringan "Islam Liberal"dgn slogan mengusung pemikiran bebas,modernisasi,dll.
kenapa disebut mereka "primitif Kota"karena mereka mengusung kembali zaman Jahiliyah pada zaman sekarang .Pemunculan kembali paham dan pemikiran Jahiliyyah yg dikemas dengan slogan moderenisasi atw pembaharuan islam atw pembaharuan pemikiran Islam yg bertendensi Agama Islam. oleh sekelompok pemikir bobrok(Primitif Kota)
Fahamnya cenderung pada perusakanAqidah dan Syariat Islam, dan menonjolkan barat ( karena emang disupport Yahudi,red) mereka menilai Islam tidak akan maju kalau tdk mengikuti barat. ini merupakan kebodohan yg mengkristal, karena sejak Zaman Jahiliyyah dulu sudah ada faham liberal yg diwarisi turun temurun sampai kini.
namun hanya membawa kehancuran dan bukan kemajuan.
Apalagi kita bisa melihat indikasinya faham liberal yg diusung hampir sama dari dulu sampai sekarang. malah masih banyak memfoto kopi dan mengadopsi faham jahiliyyah,skularis,orentalis,bathinniyah, syi'ah, dan lain2.
Dan memang tidak ada tawaran baru sama sekali dalam faham mereka.mereka hanya berniat dan berkongsi dgn Yahudi untuk menghancurkan islam dan bukan untuk kemajuan Islam.Dan mereka jg lupa Islam tidak Liberal,tapi Rahmatan Lil'alamin dan Universal dan
tidak ada Islam LiBeral.
Primitiflah mereka yg kembali ke zaman Jahiliyyah.
Allah SWT berfirman;
Ali Imran:85
Back
Minggu, 24 Februari 2008
"bANGKAI" pLURALIsME & lIBeRALIsME
merupakan pintu masuk bagi
penghancuran agama itu sendiri.
ini sudah menimpa agama Nasrani
ratusan tahun lalu di Eropa dan Amerika, sehingga gereja di sana
banyak yang kosong dan kemudian dijual. Banyak pula orang Eropa dan
Amerika yang mengaku sebagai Kristiani kian lama kian sedikit dan berubah
menjadi agnostik, kaum yang tidak mau tahu soal agama. Inilah buah dari
Liberalisme yang melanda umat Kristiani Eropa dan AS.
Setelah itu, kaum Liberalisme dan Pluralisme yang didalangi oleh apa
yang disebut-sebut Henry Ford sebagai The International Jews ini mengarahkan
terbesar dunia menjadi tujuan utama gerakan penghancur agama ini. Berkedok
sebagai Islam Pluralis, Islam Liberalis, Islam Damai, Islam
Kultural, dan kedok-kedok lainnya, mereka mencoba mendangkalkan agama
Allah ini.
Selain membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL), mereka juga melakukan
promosi di dunia maya. Salah satunya, mereka membuat situs www.libforall.com
yang awalnya (2003) hanya berbahasa Inggris namun beberapa waktu lalu
telah pula diluncurkan versi bahasa Indonesia. Tujuannya apa lagi jika
bukan untuk memperluas cakupan “jualannya”.
Di halaman pertama kita akan disambut dengan kalimat “LibForAll Foundation
adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan dunia yang damai
berdasarkan nilai-nilai luhur agama di bawah bimbingan dan perlindungan Yang
Mulia KH. Abdurrahman Wahid dan para ulama lain. ”
Masih di halaman yang sama, Associated
Press menulis bahwa CEO LibFor All, Holland Taylor, tengah berupaya
menghimpun tokoh-tokoh Liberalis dan Pluralis ber-KTP Islam di seluruh
dunia untuk membentuk satu jaringan “Muslim Moderat”. Inilah
kalimatnya: “Pendiri-bersama LibForAll C. Holland Taylor sedang menghubungkan
para pemimpin Muslim moderat dalam sebuah jaringan mercusuar di dalam
dunia Islam yang akan mempromosikan toleransi dan kebebasan berpikir dan
beribadah. ”
“Kebebasan beribadah” di sini
diartikan sebagai “Walau Anda Muslim,
Anda bebas memilih mau sholat apa
tidak. Itu terserah kepada Anda”
Sebab, bukan rahasia umum lagi jika
kelompok ini orang-orangnya sering
tidak sholat. Sholahuddin Wahid, adik
kandung Gus Dur, pernah berkata dalam satu acara, “Saya tahu betul, Gus Dur
itu tidak sholat. ” Yang kelihatan konyol, terdapat satu
kalimat di halaman “Kultur Pop” yang penuh dihiasi tulisan dan gambar band
Dewa-19 pimpinan Ahmad Dhani—yang beribu kandung seorang Yahudi-Jerman—
yang berbunyi: “Kata-kata “Laskar Jihad” berarti “The Warriors of
Jihad. ” Ia juga merupakan nama sebuah kelompok radikal yang telah
bertanggung jawab atas meninggalnya ribuan umat Kristen di Indonesia
timur, Maluku dan Sulawesi baru-baru ini, dan telah mengusir setengah
jutaan lainnya dari rumah mereka. ” Yang membuat konyol bukan soal Laskar
Jihadnya, karena laskar yang ini pun kita tahu betul apa kerjanya ketika
tengah bergelora Jihad di Ambon. Tetapi, kekonyolan yang menganggap
pihak Muslim yang harus bertanggungjawab atas matinya ribuan
umat Kristen di Maluku dan Sulawesi. Padahal, yang memulai konflik, yang
memulai serangan, memulai pembantaian, memulai perkosaan, memulai pengusiran,
di Ambon sama sekali bukan umat Islam, tapi non-Muslim. Betapa naifnya
kalimat itu. Situs ini pun tanpa tedeng aling-aling
menyatakan kelompok Islam Radikal sebagai kelompok yang diilhami Setan.
Lihat saja halaman berjudul “Sebuah ‘Fatwa Musikal’ Melawan Kebencian & Terorisme
Religius”.
Bendera perang telah dikibarkan oleh mereka. Genderang telah ditabuh. Umat
Islam Indonesia harus dididik agar memahami dengan penuh kesadaran agar
bisa menilai mana Islam yang benar dan baik, Islam yang berkiblat ke Makkah,
yang Nabinya bernama Muhammad Rasulullah SAW, dan mana Islam made in
Amerika yang berkiblat ke Washington dan Pentagon, serta nabinya bernama
George W. Bush. Ini merupakan pekerjaan besar yang harus ditunaikan
oleh orang-orang yang menyandang sebutan Ustadz dan Ulama.
Tinggalkanlah paradigma bahwa umat itu komoditas atau alat untuk mendorong
mobil mogok, yang didekati jika sedang diperlukan, namun ditinggal kabur
ketika sudah tidak dibutuhkan.
Sabtu, 23 Februari 2008
sAYAp-sAYap lIBeRaLisME
| Sesekali bukalah situs www. Libforall. Com, di sana ada sejumlah pengakuan jujur kaum liberalis Amerika dan juga pendukungnya di Indonesia untuk menghantam pemikiran Islam kafaah dan syumuliyah yang ada di dalam masyarakat Indonesia. Mereka menyebut umat Islam yang ingin menerapkan syariah Allah ini dengan sebutan “Islam Fundamentalis” dan bahkan menyebutnya sebagai “Teroris”. Situs yang memiliki slogan “Promote the Culture of Liberty and Tolerance Worldwide” (Menyebarkan budaya kebebasan dan toleransi ke seluruh dunia) ini dalam halaman pertamanya memuat misinya yang antara lain memecah-belah kaum Muslimin dengan membedakan antara kaum Muslimin Fundamentalis yang dianggap sama dengan teroris dengan Muslim Tradisionalis yang disebutnya Muslim Moderat. Jika kita klik enter maka terpampanglah halaman berikutnya yang diawali dengan sebuah kutipan atas pernyataan Abdurrahman Wahid seperti yang pernah dimuat di dalam The Wall Street Journal yang berbunyi: “ “Muslims themselves can and must propagate an understanding of the ‘right’ Islam, and thereby discredit extremist ideology. Yet to accomplish this task requires the understanding and support of like-minded individuals, organizations and governments throughout the world. Our goal must be to illuminate the hearts and minds of humanity, and offer a compelling alternate vision of Islam, one that banishes the fanatical ideology of hatred to the darkness from which it emerged, ” demikian Wahid yang juga menjabat sebagai LibForAll co-founder, patron and board member. Jadi, menurut “kiai” yang pernah foto bareng sedang memangku Aryanti Boru Sitepu—perempuan bukan muhrimnya ini hanya pakai daster, umat Islam seharusnya menyebarkan ‘kebenaran’ Islam yang sejuk dan menentang pemikiran Islam radikal. Entah, kebenaran macam apa yang dimaksud oleh “kiai” jenis ini. Di dalam halaman bertajuk “Indonesian Programs” (Program untuk Indonesia) disebutkan bahwa Libforall sejak 2004 mengefektifkan programnya untuk Indonesia yang disebut sebagai satu negara yang memiliki jumlah Muslim terbanyak dunia, dengan menggandeng orang-orang Indonesia yang disebutnya sebagai tokoh-tokoh umat Islam Indonesia yang telah tercerahkan (baca: tentunya dalam pemahaman kamus kaum liberal). Beberapa programnya secara garis besar adalah: Mendukung berdirinya “Wahid Institute” yang memiliki slogan “Seeding plural and peaceful Islam” dengan ikut mengembangkan pemahaman “Islam Moderat” dan menyebarkan gagasan pembaharan di bidang demokrasi, pluralisme, dan toleransi antara Muslim di Indonesia dan juga di seluruh dunia. Wahid Institute dipimpin oleh puteri tertua Abdurrahman Wahid yakni Yenni Wahid. Lalu di bagian bawah ada foto Abdul Munir Mulkhan, tokoh liberal dari Muhammadiyah, bersama CEO Libforall Hollan C. Taylor. Abdul Munir Mulkhan ini mendirikan Yayasan Falsafatuna yang menggabungkan pemahaman sufiisme dengan ke dalam materi pendidikan sekolah untuk menghantam pemikiran Islam fundamentalis. Lalu ada pula Yayasan Darmokusumo yang bermarkas di Yogya yang menggabungkan Islam dengan kejawen. Yayasan Libforall menyokong yayasan-yayasan lokal ini dengan program dan dana. Ada lagi pernyataan jujur yang mencengangkan. Libforall mengadakan pendidikan bagi anak-anak Islam yang berada dalam kemiskinan, “…agar anak-anak miskin ini menerima pendidikan kesetaraan untuk toleransi, penguatan, dan keterampilan individual, dan juga berempati terhadap agama lain, menghadapi dunia maju. ” Seraya menuliskan kegiatannya ada di Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga merambah anak-anak korban tsunami di Aceh. Yang cukup membuat surprise, LibForAll Foundation ternyata juga menggandeng salah satu kelompok musik papan atas Indonesia untuk menyukseskan program liberalisasi Muslim Indonesia. Kelompok musik ini bernama Dewa untuk, “…to counter extremist ideology in the world's most populous Muslim nation. ” Kelompok Musik Dewa Pertemanan antara Libforall dengan kelompok musik Dewa agaknya sangat istimewa. Jika Wahid Institute hanya disinggung sekali di dalam satu halaman situs ini, maka untuk Dewa disediakan dua halaman khusus (Popular Culture dan Warriors of Love) yang secara cukup lengkap memuat detil program berikut foto-foto yang amat mesra antara para pengusung liberalisme Islam ini. Bersama dengan Dawn Elder Management, Libforall membentuk satu gugus tugas dalam bidang manajemen kelompok-kelompok musik Islam dan non-Islam dunia untuk menyebarkan paham liberalisme yang dikatakan sebagai toleransi, pluralisme, dan demokrasi. Salah satu proyek yang digagas mereka adalah merekam dan menerjemahkan lagu “Laskar Cinta” (Warriors of Love) ke dalam bahasa-bahasa dunia antara lain bahasa Arab, Parsi, Turki, Hindi/Urdu, Bengali, Swahili, Mandingue, Hausa, Perancis, Spanyol, Rusia, dan Inggris. Selain menerjemahkan, mereka juga membuat video klip dan juga bertanggungjawab atas distribusinya. Belum cukup sampai di sini, promosi lagu ini juga dilakukan di sejumlah negara dunia yang melibatkan artis-artis top dunia di Eropa dan Amerika. Dalam situsnya, Libforall diketuai oleh C. Holland Taylor, dan Board of Directors-nya antara lain Abdurrahman Wahid, Ahmad Dhani, dan F. Borden Hanes, Jr. Beberapa orang Indonesia diankat menjadi penasehat Libforall yakni Mustofa Bisri, Amin Abdullah (Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Azyumardi Azra, Abdul Munir Mulkhan, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Frans Magnis Suseno. Mau lebih banyak agenda kaum liberalis untuk menyebarkan pahamnya ke tengah umat Islam Indonesia? Silakan klik www. Libforall. Com.(Rz) |
Kamis, 21 Februari 2008
pIKIRAn-PikiRAN mURji'aH Yg SeSaT.
Murji'ah adalah sebuah firqah yang memiliki pemahaman irja`. Maksud irja` ini memiliki dua makna. Pertama. Mengakhirkan. Yaitu mereka mengakhirkan amal dari iman. Dalam arti, bahwa menurut mereka, amal tidak termasuk bagian dari iman. Pendapat ini merupakan kesesatan karena menyelisihi 'aqidah Ahlus-Sunnah. Kedua. Memberikan raja' (harapan). Mereka mengatakan, dengan adanya iman maka maksiat tidak membahayakan. Sebagaimana juga ketaatan itu tidak bermanfaat dengan adanya kekufuran. Anggapan ini juga merupakan kesesatan, karena mereka memandang remeh terhadap nash-nash ancaman yang terdapat dalam Al-Kitab dan as-Sunnah. Para salafush-shalih telah menyatakan kesesatan firqah Murji`ah ini. Az-Zuhri rahimahullah berkata; ''Tidaklah muncul bid'ah di dalam Islam yang lebih berbahaya terhadap pemeluk (agama Islam) dari irja"
Irja` termasuk bid’ah yang keji dan mungkar. Mereka (Murji’ah) telah mengeluarkan amal dari iman. Mereka mengatakan bahwa orang yang meninggalkan amal adalah mukmin yang sempurna imannya. Mereka mengatakan tidak berbahaya bersama iman dosa bagi yang melakukannya. Mereka juga mengatakan bahwa iman sebatas perkataan dengan lisan atau sebatas pembenaran dengan hati. Para ulama salaf telah menganggap mereka sesat. Imam az-Zuhri rahimahullah berkata,"Tidak ada perbuatan bid’ah yang diada-adakan dalam Islam yang lebih berbahaya terhadap agama daripada bid’ah ini.” Yakni bid’ah Irja". Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Murji`ah adalah Yahudinya Ahlul-Qiblat (kaum Muslimin)'. Abu Ja’far Muhammad bin 'Ali bin al-Husain rahimahullah berkata, “Tiada malam dan siang yang lebih menyerupai Yahudi daripada Murji`ah"
| “Tidak diragukan lagi, pemikiran ini (Murji`ah) merupakan kebatilan dan kesesatan yang nyata, menyelisihi Al-Qur`an, as-Sunnah dan Ijma' Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah sejak dahulu hingga sekarang. Pemikiran Murji`ah ini membuka pintu bagi orang-orang yang jelek dan rusak untuk lepas dari dinul-Islam dan tidak terikat dengan perintah maupun larangan syari'at, terlepas dari rasa takut maupun khawatir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga menghilangkan sisi jihad fi sabilillâh dan amar ma`ruf nahi mungkar, menyamakan antara orang yang shalih dengan yang thalih (tidak shalih), yang taat dengan yang maksiat, dan yang istiqamah di atas agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan yang fasik yang lepas dari perintah dan larangan syari'at, selama amalan-amalan mereka tersebut tidak mempengaruhi iman sebagaimana menurut mereka.. |
Selasa, 12 Februari 2008
Rasulullah SAW bersabda: "Umatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di Neraka kecuali satu." Mereka (para sahabat) bertanya: Siapa satu golongan yang selamat itu wahai Rasulullah? Jawab beliau: Siapa saja yang seperti keadaanku dan para sahabatku pada hari ini." (Jami'ul Ushul fi Ahadits Ar-Rasul .Diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan lainnya, Al-Hafizh menggolongkannya hadits hasan) |
